Artikel

Menu Artikel di Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara memuat tulisan/artikel yang bisa dibaca oleh umum. Menu ini juga dilengkapi dengan form pencarian yang diharapkan dapat membantu pengunjung dalam mencari artikel

Berinvestasi di Perpustakaan Berarti Berinvestasi Pintar bagi Human Capital

Oleh R. H. Bambang B. Nugroho —

Kebanyakan orang, yang bekerja atau memiliki penghasilan tetap, secara sadar akan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diinvestasikan guna memenuhi berbagai keperluannya di masa mendatang. Bentuk investasi yang lazim dipilih adalah aset tidak bergerak seperti lahan kosong dan properti. Sementara aset bergerak dan cenderung lebih likuid seperti logam mulia, valuta asing, saham dan surat berharga, ataupun produk asuransi juga merupakan bentuk investasi yang relatif populer. Pembiayaan pendidikan, kesehatan dan hari tua atau masa pensiun merupakan motif kebanyakan orang untuk berinvestasi dengan menyisihkan sebagian penghasilannya. Setiap orang yang bermotif seperti tersebut di atas, disarankan untuk memulai berinvestasi sedini mungkin untuk memperoleh perkembangan aset sebesar-besarnya. (Buffett, dalam Cunningham, 1997).

Investasi seperti diutarakan Buffett di atas adalah upaya yang sangat umum dalam melawan inflasi, memperoleh keuntungan, dan mempersiapkan masa depan dalam konteks keuangan dan pembiayaan untuk keperluan yang terukur (tangible).  Kini, tidak sedikit anggota masyarakat kita yang dengan penuh perhitungan sengaja berinvestasi untuk pembiayaan keperluan atau kegiatan tak terukur (intangible) seperti bertamasya keliling Nusantara dan dunia, serta tentunya juga untuk keperluan beribadah ke tanah suci (Chandra, 2016). Namun demikian, apabila kita sungguh berkeinginan untuk berinvestasi guna membangun dan memajukan bangsa, maka disarankan untuk berinvestasi dalam ranah pendidikan. Lebih mendalam lagi, investasi tersebut hendaknya justru bukan ditanamkan dalam bentuk aset-aset tak bergerak seperti gedung-gedung sekolah ataupun auditorium universitas, namun akan lebih baik dan dalam jangka panjang akan lebih luar biasa positif, serta dampaknya eksponesial jika diwujudkan dalam bentuk pembangunan manusia atau human capital (Savvides dan Stengos, 2008).

Pada tanggal 11 Oktober tahun ini di Bali, Bank Dunia kembali merilis urutan dan besaran Human Capital Index (HCI), dan Indonesia kini berindeks 0,53 di mana masih di bawah Vietnam dengan indeks 0,67 di urutan ke-48, serta sangat jauh di bawah sang jawara bertahan Singapura dengan indeks 0,88 (World Bank, 2018). Masih menurut World Bank, terdapat tiga komponen utama dalam perhitungan HCI yaitu kelangsungan kehidupan, pendidikan, dan kesehatan. Tentunya untuk meningkatkan HCI Indonesia maka ketiga komponen tersebut harus digarap secara serius secara simultan. Adapun dari sisi pendidikan, perpustakaan sering disebut sebagai tulang punggungnya, dan beberapa tahun yang lampau ada sebuah artikel sangat menarik yang dimuat di majalah Time dengan judul: “Why Libraries are a Smart Investment for the Country’s Future”. Dias (2012), penulis artikel dimaksud, berargumen bahwa pemerintah harus mengalokasikan tambahan dana yang memadai bagi perpustakaan-perpustakaan baik publik, akademik, maupun di berbagai organisasi pemerintahan agar dapat bertransformasi dari book-shelf libraries menjadi digital library, dimana pemustaka dapat mengakses layanan perpustakaan secara mudah dari manapun, kapanpun, dan dengan gadget pribadi mereka.

Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara yang telah memulai bertransformasi menuju sebuah ministerial digital library, juga merupakan tulang punggung bagi program pendidikan dan pelatihan internal kementerian. Langkah transformasi ini perlu memperoleh perhatian yang proporsional dan secara nyata sangat memerlukan dukungan pendanaan. Merujuk Savvides dan Stengos (2008), maka dukungan tersebut merupakan investasi sangat penting dalam mengembangkan human capital Kementerian Sekretariat Negara di masa mendatang. Dari sisi waktu, menurut Buffett dalam Cunningham (1997) bahwa sebaiknya sesegera mungkin berinvestasi, maka kesegeraan peningkatan alokasi anggaran bagi perpustakaan sangat diperlukan agar dapat sesegera mungkin mewujudkan digital library yang mampu menyuguhkan kemudahan mengakses koleksi buku, majalah, artikel, film, dan bentuk koleksi literasi digital lainnya sebagaimana diargumentasikan oleh Dias (2012), untuk membangun dan memajukan human capital Kementerian Sekretariat Negara.

 

Bacaan Lebih Lanjut:

Chandra, T. (2016). Investasi bagi Pemula, Sidoarjo, Zifatama Publishing.

Cunningham, L.A. (1997). Introduction to the Essays of Warren Buffett: Lessons for Corporate America, Cardozo Law Review (19): 5.

Dias, E. (2012). Why Libraries are a Smart Investment for the Country’s Future, TIME, June 27th.

Savvides, A., dan Stengos, T. (2008). Human Capital and Economic Growth, St. Clara, Stanford University Press.

World Bank. (2018). Human Capital Index: Country Briefs and Data, diakses melalui http://www.worldbank.org/en/publication/human-capital pada tanggal 16 November 2018.

______________________________

Sumber : Chandra, T. (2016). Investasi bagi Pemula, Sidoarjo, Zifatama Publishing. Cunningham, L.A. (1997). Introduction to the Essays of Warren Buffett: Lessons for Corporate America, Cardozo Law Review (19): 5. Dias, E. (2012). Why Libraries are a Smart Investme

Penulis : R. H. Bambang B. Nugroho

Kata kunci : perpustakaan; investasi, human capital

Lampiran file :