Artikel

Menu Artikel di Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara memuat tulisan/artikel yang bisa dibaca oleh umum. Menu ini juga dilengkapi dengan form pencarian yang diharapkan dapat membantu pengunjung dalam mencari artikel

Literasi Pendidikan Angpao Generasi Milenial

Oleh Dhian Deliani, S.Sos. —

Oleh: AHMAD SYAWQI
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Perayaan hari besar menjadi momen yang selalu ditunggu oleh setiap orang, termasuk Chinese New Year yang bertepatan pada 5 Februari 2019 sebagai Tahun Baru Imlek 2570. Salah satu hal yang menarik dalam setiap perayaan Imlek adalah tradisi berkunjung ke rumah saudara sambil membagi angpao sebagai tradisi budaya Cina tanda kemeriahan perayaan tahun baru Imlek.

Tradisi pemberian Angpao ini selalu menjadi topik menarik dan menjadi rangkaian acara yang ditunggu-tunggu dari setiap generasi, sehingga sangat perlu adanya pendidikan literasi terkait Angpao tersebut, baik dari segi makna, tradisi, aturan pemberian, cara memanfaatkannya, dan sebagainya.

Seperti yang dirangkum Grid.ID dari laman Honey Combers, terkait dengan makna pemberian Angpao di tahun baru Imlek, Angpao sendiri merupakan pelafalan dari bahasa Hokkien dari kata ang pow. Sedangkan dalam kosa kata bahasa Mandarin, angpao disebut dengan hongbao, yang berarti amplop merah yang dipilih sebagai simbol dari energi, kebahagiaan dan keberuntungan.

Pemberian angpao ini diharapkan akan memberikan kebahagiaan, keberuntungan dan rasa tentram bagi para penerimanya untuk satu tahun kedepan. Karena itulah, orang yang menerima angpao tidak boleh membuka angpao tersebut di depan pemberinya.

Dilansir dari laman Malaysia thestar.com.my, sejarah pemberian angpao ini sudah berlangsung sejak lama, yaitu 1000 tahun yang lalu di negeri Panda. Saat itu, orangtua memberikan anak-anaknya 100 koin. Dalam kepercayaan mereka, pemberian 100 koin ini akan memberikan anaknya umur panjang hingga 100 tahun. Pemberian koin-koin ini dilakukan saat malam sebelum tahun baru Imlek. Anak-anak saat itu menggunakannya untuk membeli baju baru atau menabungnya.

Para penerima angpao tidak ditentukan dari umur, melainkan dari status hubungan. Jika sudah menikah, maka orang tersebut berkewajiban memberi angpao kepada sanak saudaranya yang belum menikah. Jika memang bersedia memberikan angpao kepada sanak saudara yang lebih muda, maka pemberian angpao pun akan disesuaikan dengan isi dompetnya. Selain itu, pemberian angpao juga wajib diberikan kepada anak yang sudah menikah kepada orang tuanya.

Berdasarkan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat keturunan Tionghoa, jumlah nominal uang angpao boleh berapa saja asal tidak mengandung angka 4 yang dalam bahasa mandarin memiliki pelafalan yang sama dengan kata ‘mati’ dan memiliki arti yang buruk serta selalu dikaitkan dengan ketidakberuntungan.

Disarankan saat mengisi angpao, gunakan angka 8 yang memiliki arti keberuntungan atau kekayaan dalam bahasa mandarin.

Dalam memberikan angpao sebaiknya juga menyematkan ucapan kalimat yang memiliki makna keberuntungan dan harapan yang baik, seperti ucapan yang sering digunakan saat perayaan Imlek yakni ‘Gong Xi Fa Cai’ atau ‘Semoga kamu diberkahi oleh keberuntungan yang melimpah’. Jika diuraikan Gong Xi berarti selamat, Fa berarti berkembang, dan Cai berarti kekayaan. Facai berarti berkembang dan menjadi kaya.

Angpao Generasi Milenial
Jika melihat banyaknya pengagguran dan kenaikan harga saat ini, maka generasi milenial yang lahir dalam etnis Tionghoa sangat beruntung karena jika mereka belum menikah, setidaknya setahun sekali mereka akan mendapatkan angpao “uang gratis”.

Walaupun dalam tradisi dikatakan bahwa orang yang belum menikah dapat menerima angpao, seiring bertambahnya usia mereka menjadi segan dan malu ketika masih mendapatkan angpao. Jika kita telah bekerja dan berusia lebih dari 25 tahun, tentu kita tidak akan mengunjungi 10 rumah dalam sehari dan mengucapkan “Gong xi fa cai, angpao lai!” (semoga tahun baru ini banyak rejeki, minta angpao dong!) seperti yang kita lakukan saat masih kecil, bukan?

Sama halnya dengan mereka yang belajar atau bekerja di luar negeri dan tidak pulang ke rumah saat Imlek. Setelah beberapa tahun bekerja, kita dapat merasakan susahnya mencari uang. Oleh karena itu penting bagi generasi milenial bagaimana dapat memanfaatkan angpao mereka sebaik-baiknya, selagi masih ada kesempatan.

Salah satu upaya dalam memanfaatkan Angpao tersebut adalah dengan membiasakan menabung sejak awal dan berkomitmen suatui hari di mana kita tidak lagi dapat menerima angpao. Mungkin saat ini kita merasa uang yang kita terima tidak seberapa tapi jika kita rajin menabungnya setiap tahun, setelah kita lulus kuliah dan harus mencari pekerjaan, kita akan berkata, “Wow, saya kaya!” karena kita sudah memiliki sejumlah uang di dalam tabungan.

Tidak semua orang tua dapat memberikan uang jajan yang besar tapi ini tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membelanjakan semua uang ang pao kita sebagai pelampiasan. Justru, hal ini menjadi alasan yang baik untuk menabung karena jika kita merasa uang jajan yang diberikan oleh orang tua tidak cukup, kapan kita akan mulai menabung?

Sebuah survei yang dilakukan oleh JPMorgan menunjukkan bahwa milenial membelanjakan lebih banyak uang untuk “pengalaman”, atau hal-hal seperti traveling, hiburan dan makanan. Survei tersebut juga memprediksi tingkat pertumbuhan tahunan gabungan daya belanja milenial akan menjadi 15 persen dari tahun 2014 hingga 2020.

Membahas tentang travel, industri tersebut sekarang sedang booming berkat media sosial dan milenial. Ada banyak cerita tentang anak yang baru lulus kuliah lalu pergi traveling. Itu karena mereka memiliki tabungan.

Beberapa dari mereka bahkan bekerja paruh waktu ketika masih kuliah. Kecuali orang tua kita kaya raya, bayangkan bagaimana perasaan mereka ketika sudah lega tidak usah membayar biaya kuliah tapi sekarang kita minta uang untuk traveling? Pastinya mereka malah akan menyuruh kita segera mencari pekerjaan! Jika orang tua kita tidak mengijinkan kita untuk traveling, sebenarnya alasan utamanya adalah kita minta dibayari. Jika kita ingin travel ke luar negeri, biayanya akan lebih besar maka kita harus bersabar saat menabung uang angpaomu.

Cobalah untuk magang di perusahaan yang memberikan gaji saat liburan semester, dengan begini kita akan mendapatkan uang tambahan dan resume kita menjadi bagus saat lulus kuliah nanti!

Di samping menabung, penting juga bagi generasi milenial yang setiap tahun mendapat banyak angpao, lebih-lebih bagi mereka yang sudah bekerja untuk bisa terus beramal dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkannya. Karena kita sadar bahwa sebagian Angpao yang kita miliki tentu ada juga hak bagi orang lain yang memilikinya.

Selamat Tahun Baru Imlek 2019, semoga kita semua menjadi generasi yang pandai menabung, beramal dan berbagi untuk sesama. Salam sukses selalu. (*)


Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Literasi Pendidikan Angpao Generasi Milenial, http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/02/05/literasi-pendidikan-angpao-generasi-milenial.

Editor: Elpianur Achmad

______________________________

Sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/02/05/literasi-pendidikan-angpao-generasi-milenial.

Penulis : Ahmad Syawqi

Kata kunci : imlek, angpao, literasi, pendidikan

Lampiran file :