Berita

Menu ini memuat perkembangan kabar dan informasi terkini tentang Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara, ditulis untuk disampaikan kepada para pengunjung dan masyarakat umum

Singgung Perpustakaan Rapi, Gubernur Anies: Buku untuk Dibaca Jangan Diperlakukan seperti Furnitur

Oleh Dhian Deliani, S.Sos. —

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bicara mengenai pentingnya minat baca di lingkungan masyarakat saat ini khususnya anak-anak.

Menurut dia minat baca di lingkungan DKI Jakarta saat ini masih harus perlu ditingkatkan. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah pembaharuan dalam menumbuhkan minat baca tersebut, khususnya di lingkungan sekolah dan perpustakaan.

"Kebiasaan membaca harus tumbuh di rumah, kedua ada di sekolah. Sekolah titik yang paling instrumental adalah perpustakaan," ucap Anies di Perpustakaan Nasional Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2018).

"Itu pengelola perpustakaan harus kreatif, harus inovatif, harus terus membawa pembaharuan dan harus membawa pendekatan sesuai dengan anak-anak abad 21 sehingga minat baca turun jadi naik," dia menambahkan. 

Saat dijumpai awak media dalam pembukaan seminar dan musyawarah nasional forum perpustakaan sekolah Indonesia, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia itu sempat menyinggung rapinya buku-buku di perpustakaan.

Menurut Anies, beberapa kali dirinya melihat bahwa buku-buku masih rapi bahkan terlihat masih di segel meski berada dalam rak perpustakaan.

"Kami datang ke pelosok-pelosok, banyak sekali buku di perpustakaan itu rapi betul dalam plastiknya. Kenapa rapi sekali dalam plastiknya? Supaya ketika pemeriksaan aman. Bagaimana?" kata Anies.

"Tujuannya itu adalah untuk dibaca. Ini artinya, kita harus menyusun (ulang) SOP-nya. Bahwa yang seperti buku ini jangan diperlakukan sebagai furniture, jangan diperlakukan seperti rumah atau bangunan. Buku ini berbeda," katanya.

Anies tak setuju dengan adanya aturan di perpustakaan yang mengharuskan buku selalu dalam keadaan rapi.

Apabila buku itu perlu dicorat-coret, maka lakukan. Sebab buku merupakan tempat mengekspresikan ilmu yang didapat.

"Kalau anak-anak, buku ya gunakan saja. Mau anda corat-coret itu go ahead. Gunakan, corat-coretlah buku itu. Kita pikir buku harus rapi betul. Ini bukan kitab suci. Ini buku yang anak-anak berekspresi di situ. Karena itu saya berharap nanti kita atur di Jakarta supaya aturan mainnya bebas memakai bukunya. Tentu jangan disobek. Tapi berekspresi di tempat itu. Ruang itu harus ada," tuturnya.



Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Singgung Perpustakaan Rapi, Gubernur Anies: Buku untuk Dibaca Jangan Diperlakukan seperti Furnitur, http://jakarta.tribunnews.com/2018/10/09/singgung-perpustakaan-rapi-gubernur-anies-buku-untuk-dibaca-jangan-diperlakukan-seperti-furnitur#gref.
Penulis: Pebby Ade Liana
Editor: Y Gustaman