Berita

Menu ini memuat perkembangan kabar dan informasi terkini tentang Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara, ditulis untuk disampaikan kepada para pengunjung dan masyarakat umum

Bedah buku “manajemen by amplop” tawarkan solusi pengelolan keuangan untuk pegawai

Oleh Dhian Deliani, S.Sos. —

Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara menyelenggarakan kegiatan bedah buku yang berjudul  “Manajemen by amplop: mau kaya.. koq bingung” karya Aidil Akbar Madjid  seorang Wealth Planner  di Aula Gedung 3 kemarin (21/11).  Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Kemensetneg, Setya Utama ini,  dihadiri oleh 150 pejabat dan pegawai di lingkungan lembaga kepresidenan.

Dalam sambutannya Sesmen menyampaikan  bahwa   “buku ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari karena tiap keluarga memiliki gaya pengelolaan keuangan yang berbeda. Saya teringat ibu saya yang menuliskan pengeluaran dan pemasukan dalam buku batik yang panjang setiap hari. Di jaman yang makin maju ini, mungkin sudah tidak efektif untuk jangka panjang” jelasnya.

“Pengetahuan pengelolaan keuangan ini sangat berguna bagi generasi milenial, ada stereotip, para milenial tidak bisa mengelola keuangan. Kebanyakan penghasilan mereka,  para milenial _setelah menerima uang digunakan untuk travelling dan ngopi-ngopi, jadi tidak bisa menabung atau investasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menyinggung hal ini, sehingga  gaya hidup milenial saya kira sudah dalam tahap mengkhawatirkan,” lanjutnya.

Tak lupa Sesmen menyampaikan apresiasi kepada Kepala Biro Tata Usaha beserta jajaran  yang telah menyiapkan kegiatan bedah buku ini dan memberikan manfaat kepada pejabat dan pegawai.  “Kami harapkan melalui kegiatan ini dapat memacu produktifitas pegawai karena tidak lagi memikirkan masalah keuangan keluarga” pungkasnya.

Metode ini sederhana namun ampuh untuk mengelola cash flow rumah tangga. Saat ini sedang marak masalah  keuangan akibat meningkatnya konsumerisme masyarakat. Menurut Aidil, idealnya  pemasukan – pengeluaran = positif, namun karena ada tuntutan gaya hidup di media sosial, menyebabkan pemborosan. Fenomena ini  terjadi tidak hanya di Indonesia saja  tetapi juga di Singapura. Konon 70-80% kelas menengah terancam bangkrut karena masalah konsumerisme. Mereka adalah social climber, ingin status sosial tinggi tapi sebetulnya mereka tidak mampu.  Memiliki jiwa gengsi tinggi untuk tampil maksimal di Instagram.  Untuk itulah harus ada manajemen pengelolaan keuangan yang baik, salah satunya memakai metode amplop.

Pria yang akrab disapa Bang Akbar  ini, menceritakan bahwa metode pengelolaan keuangan yang digagasnya  terinspirasi oleh ibunda  yang membagi penghasilan bulanan dari ayah  dan dimasukkan ke dalam amplop. “Ketika itu saya berumur 6 tahun, Ibu memasukkan uang ke dalam 15 amplop. Namun saya menyederhanakan menjadi 3 jenis amplop, yaitu amplop hijau untuk pengeluaran bulanan, amplop kuning untuk tabungan, dana darurat, dan asuransi serta amplop merah untuk investasi,” kata Aidil.

“Hati-hati terhadap penggunaan uang cash, bisa menyebabkan ‘bocor halus’ yaitu pengeluaran kecil tetapi sering, dilakukan hampir setiap hari secara tidak sadar akan mempengaruhi pengelolaan keuangan  kita.   Ketika  Penghasilan – Pengeluaran = Negatif  maka lakukan adjustment  hanya ada 2 hal yang  bisa dilakukan:  naikkan pendapatan dan menurunkan pengeluaran”sarannya.

Kegiatan yang dipandu oleh Bambang Budi Nugroho ini  berlangsung sangat cair, sering kali penjelasan narasumber  mengundang gelak tawa peserta. Paparan dilanjutkan dengan sesi  tanya jawab, ditutup dengan penyerahan buku oleh Aidil Akbar untuk Perpustakaan Setneg. Pada akhir acara disediakan sesi klinik konsultasi dengan Tim Aidil Akbar untuk para peserta yang memerlukan saran tentang pengelolaan keuangan. (DD)