Berita

Menu ini memuat perkembangan kabar dan informasi terkini tentang Perpustakaan Kementerian Sekretariat Negara, ditulis untuk disampaikan kepada para pengunjung dan masyarakat umum

Indonesia Krisis Literasi

Oleh Dhian Deliani, S.Sos. —

SEMARANG- Indonesia sedang mengalami krisis literasi. Bahkan tidak masuk peringkat 10 besar dalam hal literasi dan melek aksara.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Forum Lingkar Pena Afifah Afra, saat menjadi pembicara dalam seminar nasional di Aula Fakultas Hukum, Unissula, baru-baru ini. “Indonesia kehilangan satu puzzle periode, dan puzzle ini bagian terpenting suatu peradaban. Puzzle ini, yakni periode literasi yang seharusnya telah matang oleh penduduk Indonesia, sebelum terjejali politik etis, perkembangan periode audio visual dan internet seperti saat ini,” ujarnya dalam seminar bertajuk ”Menggenggam Dunia dengan Literasi” itu.

Wanita yang juga penulis itu menambahkan, masalah literasi bukan hanya dunia, tetapi juga urusan akhirat. Islam merupakan agama yang kuat. Agama yang mengajarkan tentang literasi yang dapat dilihat dari hadis dan berbagai buku ajarannya. Literasi salah satu ruh dari Islam. Begitu banyak yang belum paham tentang agama, karena banyak yang belum paham akan literasi. Indonesia saat ini darurat literasi karena belum paham dengan pentingnya tradisi literasi.

Sehat

”Menulis membuat jiwa seseorang menjadi sehat. Memiliki hati yang baik akan kebaikan dan secara akal kemampuan berfikir yang sangat baik. Apabila kemampuan manusia dioptimalkan maka akan diberikan kecerdasan yang khas,” ujarnya.

Afifah menuturkan, tugas masyarakat, yakni mengembalikan zaman yang hilang. Menurutnya, tulisan merupakan perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan, merupakan instrumen ketepatan dan ukuran peradaban.

Dalam acara yang digelar Forum Silaturahmi An-Nissa (FSA), Lembaga Dakwah Unissula, narasumber lain, Ahmad Mujib El- Shirazi MA menyampaikan, dalam peradaban Islam dapat ditemukan, bahwa tradisi membaca dan menulis begitu melimpah.

Semua orang pada masa dulu digerakkan untuk memahami dan tergerak untuk mencatat hadis Rasulullah. “Hanya Rasulullah yang katakatanya terekam dengan baik dan dicatat melalui tulisan.

Begitu penting dan berpengaruhnya membaca dan menulis terhadap kehidupan seorang muslim. Ilmu yang ditulis akan terus mengalir dan tetap melimpah sampai sekarang dan bahkan mungkin sampai ke masa mendatang” pungkas Mujib.(K18-22)

 

Sumber :  https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/158549/indonesia-krisis-literasi